Dear SS,
Salam hangat terdahsyat dari seseorang yang pernah ada dalam
hidupmu, di manapun kamu berada…..
Aku gak tau harus mulai darimana, terlalu banyak yang ingin
aku ungkapkan kepadamu. Mengapa harus lewat surat? Aku punya dua alasan untuk
itu. Pertama, aku sering speechless setiap ngobrol denganmu, tiba-tiba blank
gitu. Kedua, kemampuan lidahku tidak sebagus kemampuan menulisku, terkadang ada
banyak hal yang tidak tersampaikan oleh lidahku ini. Tetapi kalau aku tulis, semua
terungkapkan dengan sempurna.
Aku nulis surat ini untuk mengungkapkan semua yang ada di
hatiku. Agar semua kesalahpahaman dan ketidaknyamanan yang terjadi di antara
kita tak ada lagi. Sehingga hubungan kita kembali lagi seperti semula. Dekat dan
akrab layaknya saudara.
Semoga kamu sehat dan bahagia selalu dimanapun kamu berada
serta semua urusanmu diberi kelancaran oleh Allah SWT. HP-ku crash SS, aku kehilangan
nomor kamu, jadinya kita loss contact. Setelah kita tidak dalam satu komunitas
lagi dan lulus, aku nggak dengar lagi kabar tentangmu. Tetapi aku sesekali
ngecek akun facebookmu, bukan untuk comment ataupun kirim message. Itu aku lakukan
hanya untuk sekadar memenuhi rasa penasaranku, akunmu masih aktif atau tidak.
Oh ya SS, aku titip salam ya buat kak Nana dan baby Faiz, semoga dedek faiz
jadi anak yang shaleh dan gagah serta bermanfaat bagi sesama.
Aku tak bisa melupakanmu, kamu telah menempati ruang khusus
di hatiku. Bahkan, sadar ataupun tidak, aku sering menyertakanmu dalam setiap
do’aku. Kamu masih ingat percakapan kita, dalam persiapan sebuah event, tentang
asal muasal panggilan “SS”. Menurut kamu “SS” itu adalah “Seksi Sibuk”, dengan
alasan kita melakukan banyak hal yang bukan tanggung jawab kita. Kita memiliki kelapangan
waktu sehingga bisa menghandle hal itu (bersih-bersih, mendekor, nyari kertas
dan bingkai buat sertifikat, beli bunga, beli pita dan pretelannya, bahkan kamu
sempat-sempatnya pula beli sepatu pantofel baru buat dipakai di event itu).
Kita benar-benar jadi orang yang paling sibuk, sampai-sampai gak ada foto kita
di semua dokumentasi yang ada. Karena kita selalu sibuk, dan ngurusin semua
hal, sampai melupakan sesi foto-foto. Kita berusaha memberikan pelayanan yang
terbaik kepada para narasumber, undangan dan tamu yang hadir. Saat itu aku
setuju, SS itu Seksi Sibuk, tetapi sekarang aku punya arti tambahan dari SS
itu, yaitu “Special Someone”, karena itulah arti dirimu di hatiku. Kamu berkesan
bagiku.
Masih lekat dalam ingatanku, bagaimana keakraban dan
kedekatan hubungan yang terjalin antara kita. Salah tingkah dan tersipu-sipu
yang kerap muncul. Perasaan dihargai diistimewakan, didengarkan sarannya,
dipertimbangkan masukannya, persahabatan yang erat, kepedulian yang tercipta,
kepercayaaan dan keceriaan yang ada yang tak bisa hilang dalam ingatan. Tiga
tahun bukan waktu yang sebentar SS. Melupakan kebersamaan kita dan semua kisah
yang telah tercipta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh
proses. Semua cerita, penempaan ilmu baru dari para ahlinya, simulasi-simulasi
yang menambah pengetahuan kita, perjuangan dan pengorbanan dalam mewujudkan
cita-cita, romansa dan kekeluargaan yang tercipta, dan tenggang rasa dalam
mewujudkan tujuan bersama begitu membekas di jiwa.
Aku tidak pernah tau apa arti diriku bagimu, karena kita
tidak pernah jujur terhadap perasaan masing-masing. kita tak wajib melabeli
hubungan yang telah terjalin ini. Cukup jujur dan ikuti hati nuranimu, SS.
Seperti quote yang aku baca di novel LCHP karya Karla M. Nashar, “melabeli
hanya akan memberikan batasan pada sesuatu. Banyak hal dalam hidup ini yang
tidak bisa dilabeli dengan kata-kata yang punya keterbatasan. Padahal untuk
bisa memahami hal-hal yang tidak bisa dilabeli, kita hanya perlu jujur
merasakannya dengan hati. Sesederhana itu”.
Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku SS. Kamu
telah membuat hidupku lebih berwarna. Semua yang telah terjadi adalah proses
yang harus aku lalui menuju kedewasaan. Kamu telah mengajarkan banyak hal,
kerja keras; persahabatan; pengorbanan; kesetiaan; kasih sayang’ kepeduliaan;
saling menghargai; komitmen; pengabdian dan sikap lainnya yang harus dimiliki dalam
menjalani hidup dan dinamikanya. Terima kasih juga kamu telah menyempatkan
hadir di acara penting dalam jenjang pendidikanku. Aku maklum dengan
kesibukanmu, jadi aku tidak terlalu berharap kamu akn datang. Surprise!!!
ternyata kamu datang, padahal saat itu hujan dan kamu dalam keadaaan sangat
capek. I’m happy and appreciate it SS. Aku benar-benar menghargai
pengorbananmu, walaupun aku gak bisa ketemu kamu secara langsung, aku pulang
lebih awal karena sedang flu.
Maafkan aku jika selama ini aku berbuat salah dan khilaf
terhadapmu SS. Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan jauh dari
kesempurnaan. Maafkan aku, aku terlalu nyaman memanggilmu dengan SS daripada
namamu. Bukan berarti aku tidak menghargai nama yang telah diberikan oleh
orangtuamu, entahlah, SS itu begitu simple dan terdengar lebih indah. Mengenai
kelanjutan hubungan ini aku serahkan kepada sang Pencipta. Sekarang ini aku fokus
pada peningkatan kualitas diri, mengejar mimpi, membahagiakan kedua orangtua
dan keluargaku, serta memberikan kebahagiaan dan manfaat bagi sesama. Aku akan
tetap menjaga tali silaturrahim denganmu. Aku percaya nanti akan ada “the right
man in the right place at the right
time” buatku. “Semua akan indah pada waktunya”. Dan aku yakin janji allah ini
akan berlaku,”Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang
baik untuk lelaki yang baik”.
Hanya ini yang bisa aku tulis, semoga aku tidak mengejutkanmu
ataupun menyakiti hatimu. Lega rasanya!!! Thx udah nyempatin baca dan maaf
kalau kepanjangan. Tujuanku hanya satu, biar semua clear, clear, clear.
Hehehe ^^
Sincerely yours,
IZP