Cerpen Love letter, love rain
Nama pena : Andromeda
Langit
tampak sangat kelam. Angin berhembus dengan kencang. Tak berapa lama hujan pun
turun dengan derasnya. Aku masih di lokal, kuliah terakhir untuk hari ini.
Dosen yang membosankan, hobi member tugas seabrek, kelas yang penuh, karena ini
mata kuliah umum, jadi antara kelas genap dan ganjil digabung. Hujan yang turun
mempengaruhi mood belajarku. Untung aku bawa payung, jadi aku gak khawatir saat
pulang nanti. Aku tak akan kebasahan. Lima belas menit kemudian kelas usai dan
seperti biasa dosen member kami oleh-oleh tugas latihan 1 sampai dengan latihan
7 pada materi yang dibahas hari ini. Ajaib banget ni dosen, apa yang ia
jelaskan tak dimengerti, mana diberi tugas seabrek lagi. Apakah seperti ini
sikap dosen?
Aku
langsung keluar lokal, dan bergegas pulang. Berjalan cepat di koridor dan
tangga. Hujan turun dengan deras. Jika ada yang memaksa berjalan di bawahnya
tanpa payung, pasti besoknya langsung flu. Aku bentangkan payung dan langsung
menuju parkiran dan jalan raya menunggu angkot. Tiba-tiba disebelahku berdiri
seorang cowok. “Bolehkah aku memakai payung itu berdua denganmu?” cowok ini kan
satu kelas denganku tadi. “Kamu mau kemana?” “Aku mau ke parkiran itu, tidakkah
kamu keberatan aku menumpang sampai sana?” “Oke, boleh kok.” “Thanks ya, oh ya
btw namaku Rasyid, kelas ganjil, namamu siapa?”
“Namaku Indira, kelas genap, pantesan kita hanya bertemu di mata kuliah
ini, beda kelas ternyata”.
Kami
pun berjalan beriringan di bawah payung yang sama. Aku menyesuaikan langkahku
dengannya, agar salah satu dari kami tidak ada yang basah. “BP kamu berapa?”
“90, kamu?” “107” “Rumahmu dimana? Biar aku antar” aku tinggal lumayan jauh
dari sini, di lolong, kalau kamu?” “ aku di pengambiran”. Ritme langkah yang
teratur, udara yang dingin membuat perjalanan menuju parkiran itu harus
dipercepat. Kami sampai di parkiran, Rasyid langsung membuka bagasi motornya,
memakai mantel dan akan mengendarai motornya. “Terima kasih ya Indira, kamu mau
nebeng?” “Tidak, aku naik angkot saja, lagian rumah kita tidak searah. Kamu
hati-hati ya”. “Ok, Kamu juga hati-hati, sekali lagi terima kasih ya”.
*****
Perkenalanku dengannya terjadi di saat
hujan. Pertemuan selanjutnya juga terjadi di saat hujan. Aku sedang mengerjakan
tugas di lantai dasar perpustakaan. Gerimis turun, namun langit terlihat cerah.
Ini hujan panas, biasanya hanya sebentar. Tiba-tiba Rasyid datang, dan berlari
menujunya. Sepertinya ia kehujanan dan ia duduk di sampingnya, sambil mengusap wajahnya
yang basah oleh air hujan. “Hai Rasyid” Hai Indira” “Kita ketemu lagi”. “Iya”
Aku melanjutkan mengerjakan tugas yang tinggal satu nomor lagi dan setelah
selesai aku langsung ke lokal karena masih ada satu mata kuliah lagi untuk hari
ini. Akhirnya selesai juga. “Kamu kehujanan ya Syid?” “Iya nih In”. “Kamu darimana?” “Aku tadi ke perpus terus ke
fakultas, aku baca pengumuman, kita diwajibkan ikut salah satu organisasi
kampus atau UKM, Unit Kegiatan Mahasiswa, kemudian aku mengumpulkan informasi,
eh tiba-tiba hujan turun. Mana aku parkir motor di perpus lagi, makanya aku
balik lagi kesini dalam keadaan basah”,jelas Rasyid.“Mengapa kamu gak nunggu
hujan reda dulu baru jalan?” Aku takut hujan ni gak berenti-berenti, makanya
aku nekat aja”, jawab Rasyid sambil cengengesan. “Oh gitu, thanks ya Syid atas informasinya,
aku pergi dulu ya, ada kelas nih. Bye
Syid”. “Bye In”
*****
Indira,
gadis manis yang mulai menapaki karir di dunia pasar modal dan saham. Pekerjaannya
sebagai analis di sekuritas terkemuka ibukota menjanjikan pengembangan karir
yang pesat dan kemapanan. Dia harus memberikan rekomendasi yang akurat kepada
nasabahnya dan mengomunikasikannya secara lisan maupun tulisan dengan baik.
Indira bukanlah orang baru di dunia pasar modal khususnya saham. Selama tiga
tahun studinya di universitas ternama di kotanya, dia telah aktif di organisasi
kampusnya. Bahkan dia bisa menebak dengan jitu suatu saham akan mengalami
kenaikan harga, penurunan harga atau stabil dalam waktu sekejap dengan hasil
yang akurat. Keahlian ini ia peroleh karena ia selalu menganalisa dan mengumpulkan fakta-fakta serta
melakukan riset. Ia meyakini sejarah pasti berulang dan semua harga yang akan
terbentuk ada polanya. Selain itu ia juga terus mengasah instingnya, mengaitkan
antara analisa fundamental dengan analisa teknikal serta psikologi para trader.
Karirnya mulai menanjak, dan ia mulai menjadi sosok yang diperhitungkan
analisanya. Di usia 24 tahunnya ini, semua keinginannya hampir tercapai
sepenuhnya, tapi ada satu hal yang belum tercapai yaitu kekasih. Sampai
sekarang dia masih single.
Tiga
tahun sudah dia di ibukota. Rutinitas yang padat, begitu banyak orang yang ia
temui, tapi tak satupun yang memikat hatinya. Setiap pria yang ia temui berlalu
begitu saja, tak ada yang berkesan. Tak ada yang menbuat hatinya
berdebar-debar, tak ada yang hadir di mimpinya, bahkan tak ada yang secara
tidak sengaja muncul dalam do’anya. Dia selalu bertanya kepada dirinya sendiri,
“Mengapa aku tak pernah merasakan sesuatu terhadap laki-laki yang bahkan
laki-laki itu masuk dalam kriteriaku? Mengapa semuanya tampak biasa saja?”
Tiba-tiba muncul kesadaran dari dalam hatinya, “Apakah karena dia? Apakah dia
jodoh yang disiapkan Allah untukku? Masih adakah dia di hatiku? Itukah sebabnya
sampai sekarang sekarang aku tak bisa melihat laki-laki lain? Aku gak tahu lagi
kabarnya,kita udah loss contact hampir 4 tahun, apakah mungkin aku masih
menantinya?” “Apakah mungkin surat yang aku buat itu menjadi janjiku dan mengikatku
padanya?” “Setiap kata-kata yang kogeraskan benar-benar jadi kenyataan
sekarang.” Arrrggghhhhh...... Aku ingin pulang!!!!
Rasyid,
cowok tampan yang mulai mapan. Pekerjaannya sebagai Asisten Manajer Keuangan di
salah satu rumah sakit ternama di kotanya. Dia pekerja keras dan perfeksionis.
Teman-teman seusianya sudah memiliki kekasih, namun ia belum juga menemukan
belahan jiwanya. Ia masih betah melajang. Silih berganti cewek menghampiri,
tapi tak satupun yang ia seriusi untuk menjadi kekasih hati. Ia selalu bertanya
kepada diri sendiri, mengapa bisa begitu. Logikanya berkata, “Aku belum
menemukan orang yang tepat, makanya aku masih single di usia 24 tahun ini”.
Namun hatinya berkata, “Apa karena dia aku seperti ini? Apakah dia jodoh yang
disiapkan Allah untukku? Aku mempercayai kata-kata yang ia tulis di surat itu,
aku menantinya, menutup hatiku, aku berharap dia adalah jodohku, sehingga aku
gak bisa melihat perempuan lain? Aku gak tahu dia masih memiliki rasa yang sama
atau tidak, dia masih menantiku atau tidak, bahkan dia masih single atau tidak?
Aku bahkan masih ingat setiap kata yang ia tulis di surat yang dia bilang
“Ucapan Perpisahan” itu” benar-benar
menyentuh hati dan membuatku meneteskan air mata. “Oh Tuhan, berikan aku jalan
keluar. Semua ini memusingkanku.”
Arrrrgggghhhhh….Aku butuh liburan!!!!!!
*****
Ucapan perpisahan
Dear
Rasyid,
Salam
hangat terdahsyat dari seseorang yang pernah ada dalam hidupmu, di manapun kamu
berada ....
Aku
gak tau harus mulai darimana, terlalu banyak yang ingin aku ungkapkan kepadamu.
Mengapa harus lewat surat? Aku punya dua alasan untuk itu. Pertama, aku sering
speechless setiap ngobrol denganmu, tiba-tiba blank gitu. Kedua, kemampuan
lidahku tidak sebagus kemampuan menulisku, terkadang ada banyak hal yang tidak
tersampaikan oleh lidahku ini. Tetapi kalau aku tulis, semua terungkapkan
dengan sempurna.
Aku
nulis surat ini untuk mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Agar semua
kesalahpahaman dan ketidaknyamanan yang terjadi di antara kita tak ada lagi.
Sehingga hubungan kita kembali lagi seperti semula. Dekat dan akrab layaknya
saudara.
Semoga
kamu sehat dan bahagia selalu dimanapun kamu berada serta semua urusanmu diberi
kelancaran oleh Allah SWT. HP-ku crash Rasyid, aku kehilangan nomor kamu,
jadinya kita loss contact. Setelah kita tidak dalam satu komunitas lagi dan
lulus, aku nggak dengar lagi kabar tentangmu. Tetapi aku sesekali ngecek akun
facebookmu, bukan untuk comment ataupun
kirim message. Itu aku lakukan hanya untuk sekadar memenuhi rasa penasaranku,
akunmu masih aktif atau tidak.
Aku
tak bisa melupakanmu, kamu telah menempati ruang khusus di hatiku. Bahkan,
sadar ataupun tidak, aku sering menyertakanmu dalam setiap do’aku. Kamu masih
ingat percakapan kita, dalam persiapan sebuah event, tentang asal muasal panggilan
“SS”. Menurut kamu “SS” itu adalah “Seksi Sibuk”, dengan alasan kita melakukan
banyak hal yang bukan tanggung jawab kita. Kita memiliki kelapangan waktu
sehingga bisa menghandle hal itu (bersih-bersih, mendekor, nyari kertas dan
bingkai buat sertifikat, beli bunga, beli pita dan pretelannya, bahkan kamu
sempat-sempatnya pula beli sepatu pantofel baru buat dipakai di event itu).
Kita benar-benar jadi orang yang paling sibuk, sampai-sampai gak ada foto kita
di semua dokumentasi yang ada. Karena kita selalu sibuk, dan ngurusin semua
hal, sampai melupakan sesi foto-foto. Kita berusaha memberikan pelayanan yang
terbaik kepada para narasumber, undangan dan tamu yang hadir. Saat itu aku
setuju, SS itu Seksi Sibuk, tetapi sekarang aku punya arti tambahan dari SS
itu, yaitu “Special Someone”, karena itulah arti dirimu di hatiku. Kamu
berkesan bagiku.
Masih
lekat dalam ingatanku, bagaimana keakraban dan kedekatan hubungan yang terjalin
antara kita. Salah tingkah dan tersipu-sipu yang kerap muncul. Perasaan dihargai
diistimewakan, didengarkan sarannya, dipertimbangkan masukannya, persahabatan
yang erat, kepedulian yang tercipta, kepercayaaan dan keceriaan yang ada yang
tak bisa hilang dalam ingatan. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar SS.
Melupakan kebersamaan kita dan semua kisah yang telah tercipta tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses. Semua cerita, penempaan ilmu
baru dari para ahlinya, simulasi-simulasi yang menambah pengetahuan kita,
perjuangan dan pengorbanan dalam mewujudkan cita-cita, romansa dan kekeluargaan
yang tercipta, dan tenggang rasa dalam mewujudkan tujuan bersama begitu
membekas di jiwa.
Aku
tidak pernah tau apa arti diriku bagimu, karena kita tidak pernah jujur
terhadap perasaan masing-masing. kita tak wajib melabeli hubungan yang telah
terjalin ini. Cukup jujur dan ikuti hati nuranimu, Rasyid. Seperti quote yang
aku baca di novel LCHP karya Karla M. Nashar, “melabeli hanya akan memberikan
batasan pada sesuatu. Banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dilabeli dengan
kata-kata yang punya keterbatasan. Padahal untuk bisa memahami hal-hal yang
tidak bisa dilabeli, kita hanya perlu jujur merasakannya dengan hati.
Sesederhana itu”.
Terima
kasih telah menjadi bagian dalam hidupku Rasyid. Kamu telah membuat hidupku
lebih berwarna. Semua yang telah terjadi adalah proses yang harus aku lalui
menuju kedewasaan. Kamu telah mengajarkan banyak hal, kerja keras;
persahabatan; pengorbanan; kesetiaan; kasih sayang’ kepeduliaan; saling
menghargai; komitmen; pengabdian dan sikap lainnya yang harus dimiliki dalam
menjalani hidup dan dinamikanya. Terima kasih juga kamu telah menyempatkan
hadir di acara penting dalam jenjang pendidikanku. Aku maklum dengan
kesibukanmu, jadi aku tidak terlalu berharap kamu akn datang. Surprise!!!
ternyata kamu datang, padahal saat itu hujan dan kamu dalam keadaaan sangat
capek. I’m happy and appreciate it Rasyid. Aku benar-benar menghargai
pengorbananmu, walaupun aku gak bisa ketemu kamu secara langsung, aku pulang
lebih awal karena sedang flu.
Maafkan
aku jika selama ini aku berbuat salah dan khilaf terhadapmu Rasyid. Aku hanya
manusia biasa yang tak luput dari dosa dan jauh dari kesempurnaan. Maafkan aku,
aku terlalu nyaman memanggilmu dengan SS daripada namamu. Bukan berarti aku
tidak menghargai nama yang telah diberikan oleh orangtuamu, entahlah, SS itu
begitu simple dan terdengar lebih indah. Mengenai kelanjutan hubungan ini aku
serahkan kepada sang Pencipta. Sekarang ini aku fokus pada peningkatan kualitas
diri, mengejar mimpi, membahagiakan kedua orangtua dan keluargaku, serta
memberikan kebahagiaan dan manfaat bagi sesama. Aku akan tetap menjaga tali
silaturrahim denganmu. Aku percaya nanti akan ada “the right man in the right place at the right time” buatku.
“Semua akan indah pada waktunya”. Dan aku yakin janji allah ini akan
berlaku,”Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik
untuk lelaki yang baik”.
Hanya
ini yang bisa aku tulis, semoga aku tidak mengejutkanmu ataupun menyakiti
hatimu. Lega rasanya!!! Thx udah nyempatin baca dan maaf kalau kepanjangan.
Tujuanku hanya satu, biar semua clear, clear, clear. Hehehe ^^
Sincerely
yours,
Indira
*****
Pantai Carocok, Painan,
Pesisir Selatan
Angin
yang berhembus sepoi-sepoi, laut yang biru, pasir yang putih, ombak yang deras
memecah karang. Karang yang berjejer rapi ban elok dipandang mata. Masterpiece
dari Sang Pencipta. Banana boat yang sangat diminati pengunjung, bahkan mereka
rela antri sepanjang 5 meter. Matahari yang sinarnya tidak begitu menyengat,
air laut yang surut sehingga karang-karang dan udang yang bersembunyi malu-malu
dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini benar-benar indah dan surgawi. Tempat
ini masih sama seperti lima tahun yang lalu, masih memukau, masih ramah
terhadapnya, masih indah, masih menyenangkan bahkan tempat ini jauh lebih bagus
dari sebelumnya. Flying fox yang tetap menantang, banana boat yang masih
menguji nyali, jembatan yang eksotis, deburan ombak yang mendebarkan. Pantai
yang landai, air yang bersih, pasir yang putih, kerajinan dari karang yang begitu
indah semua itu benar-benar membuatku merindukan tempat ini. Pantai ini telah
menjadi salah satu destinasi pantai favoritku. Semua nostalgia lima tahun yang
lalu berkelabat di benakku. Setiap adegan yang telah terjadi berpacu-pacu
muncul. Semua kenangan itu masih kuingat dengan jelas. Rasa itu masih ada.
Akupun menghirup nafas dalam-dalam sambil membuang semua beban di pikiranku.
Aku menikmati setiap keindahan dan kedamaian yang ditawarkan pantai ini dan
menyatu dengannya. Sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran seseorang di
sampingku.
“Pantai
ini masih tetap menakjubkan seperti lima tahun lalu ?” Tanpa mengalihkan
pandangan, spontan aku mengangguk. Kenapa suara orang ini begitu familiar di
telingaku? Suara ini, apakah ini dia? Benarkah yang mengajakku bicara ini dia
yang selalu aku nantikan, selalu aku rindukan, selalu hadir dalam do’aku? Aku
menoleh ke samping dan mendongakkan kepala ke atas. “Rasyid, benarkah ini kau
Rasyid?” “Apakah aku sedang bermimpi?” Indira mengerjapkan matanya untuk memastikan
penglihatannya. Iya, ini aku Rasyid, Indira”. “ Kamu kenapa begitu shock
bertemu denganku, seperti bertemu hantu saja?” “Ini sakit atau tidak?” Rasyid
memukul lengan Indira, sambil menahan tawa. Ini tidak mimpi. Tuhan telah
mengabulkan do’a-do’aku, ucapku dalam hati. “Awww sakit, kau benar-benar
mengagetkanku, dan aku gak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini
SS”. Rasyid tersenyum melihat reaksi Indira. “Kamu masih ingat panggilan itu?” Indira
tak menjawab, ia terdiam dan menunuduk, tadi ia keceplosan, memanggil Rasyid
dengan SS, panggilan akrab yang mereka ciptakan yang berarti special someone.
Kecanggungan
pun terjadi. Indira menetralisir suasana dengan menanyakan kabar Rasyid. “Udah
lama kita gak bertemu, bagaiman kabarmu sekarang Syid?” “Aku sehat-sehat aja
Indira, kamu sendiri bagaimana?” “Seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat” .
“Btw kamu semakin aja nih,” candanya. “Semakin apa nih? Makin tampan, makin
mapan, makin memikat, makin oke, makin macho atau makin gagah ?” Rasyid menjawab
dengan senyuman lebar di wajahnya. Indira menjawabnya dengan tawa.. “HAHAHAHAHAHA”
“ Kamu masih seperti dulu ya, egomu gak pernah hilang. Sebernarnya semua
pengakuanmu tadi benar, tetapi kalau aku akui, egomu selangit nanti”. “HAHAHAHA”.
”HAHAHAHA” mereka pun tertawa bersama.
“Mengapa
kamu ada disini?”tanya Indira. “Kamu
juga, mengapa ada disini, bukannya kamu di Jakarta?” Rasyid balik bertanya.
“Aku lagi cuti, kemarin pagi tiba di Padang, lusa balik ke Jakarta, makanya aku
sempatin kesini hari ini. Aku kangen sama keluarga disini, udah lama juga gak
pulang. Dan aku kangen pantai ini, itung-itung buat refreshing. Main air, main
flying fox dan main banana boat, dan jalan-jalan di sepanjang pantai sambil
cari karang dan udang. Kalau kamu? “ Rasyid mengamati Indira, dia masih seperti
dulu, ramah, penuh senyum dan ceplas-ceplos. Aku sangat merindukan senyum ini,
suara ini selalu tergiang-ngiang di telingaku. Entah mengapa aku selalu sulit
bernafas setiap bertemu dengannya. “ Aku juga lagi cuti, aku butuh waktu untuk
merefresh otak, hati dan pikiranku. `rutinitas pekerjaanku benar-benar
membuatku gila. Ada rencana lagi rumah sakit ini akan buka kantor cabang di
Jakarta, untung saja semuanya sudah selesai, jadi aku bisa liburan dengan
tenang.” Kau masih seperti dulu SS, tampan, berwibawa, necis dan hangat. Kenapa
hatiku selalu berdebar-debar begini, batin Indira. “Kau masih mau disini, aku
mau mencoba flying fox.” “Aku ikut, aku juga mau main. Yuk” Rasyid menggenggam
tangan Indira dan mereka berjalan berdampingan menuju tempat antrian. Indira
melihat ke tangannya, genggaman itu masih hangat, ia merasa terlindungi,
diistimewakan, semua kenangan indah yang mereka alami berkelabat seketika di
pikirannya. Lumayan lama menunggu, akhirnya giliran mereka tiba. Benar-benar
mengasyikkan dan indah sekali pemandangan pantai ini dari atas. Subhanallah,
benar-benar indah ciptaan Sang Pencipta.
Ketinggian yang sekitar 25 meter dari permukaan laut dan panjang sekitar
10 meter, benar-benar menguji adrenalin Indira.
Begitu
menginjakkan kaki di daratan, gerimis turun. Hujan selalu jadi saksi bisu
pertemuan kami. “Cuaca di daerah ini sulit ditebak. Hujannya mulai deras In,
kita berteduh dulu di warung depan itu ya?” “ Iya, yuk Syid”. Mereka berlari-lari menuju warung yang dimaksud.
Tangan Indira selalu digenggam Rasyid. Indira tidak menolak dan keberatan,
malah dia merasa nyaman dan terlindungi. “Aku pesan kopi panas, untuk
menghangatkan badan, kamu mau makan atau minum apa?” “Aku teh panas dan mie
rebus aja, flying fox tadi menguras energiku”. “Hehehe”.
“Rasyid, ada yang ingin
aku tanyakan….” “
Indira aku punya pertanyaan,…” Mereka serempak bersuara. “Kamu
duluan deh Syid.” “Kamu aja Indira yang
duluan. Ladies first “. “Aku merasa
dejavu, kita pernah mengalami ini, hari yang indah dan membahagiakan beberapa
tahun yang lalu. “Lima tahun yang lalu, kita pernah kesini, koreksi Rasyid. “Hari
itu memang indah, air laut yang surut, udang dan kepiting yang malu-malu
bersembunyi di balik karang, hujan yang turun, membuat kita berteduh di tempat
ini”. “Indira, kamu masih mengingat panggilan itu, apakah segala kenangan kita juga
masih kau ingat, apa itu artinya, masih
ada aku di hatimu?” Glek…Indira terhenyak di tempat duduknya. Pertanyaan Rasyid
menohok hatinya. “A..a..aku.. “ Indira tergagap. Dia lalu terdiam sesaat,
mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan itu. Aku memang tidak pernah
jujur terhadapmu, tapi satu yang harus kamu tahu, kamu benar-benar berkesan
bagiku. Sejak aku membaca surat itu, entah kenapa hatiku merasakan sesuatu yang
aneh. Namun, secara tak sengaja hatiku telah terkunci untukmu. Kata-kata yang
kau tulis merasukiku. Aku tak bisa berpaling ke lain hati. Bagiku kau juga
special someone-ku”. Indira mendengarkan penjelasan Rasyid dengan saksama, dia
terhenyak dan matanya berkaca-kaca. “Kalau kamu belum siap menjawab pertanyaan
tadi, jangan memaksakan diri, nanti saja”. “ Apa aku harus jujur Rasyid?” hujan
mulai berhenti, mereka selesai makan dan berjalankeluar warung. Mereka mulai
menyusuri jembatan, “Terserah kamu, aku sudah ungkapkan semua, apa kamu mau memperpanjang
ketidakjelasan status antara kita?”
“Sebenarnya, sampai
sekarang kau masih ada di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Saat
menulis surat itu aku sudah berusaha berfikir jernih, aku belum yakin dengan
apa yang benar-benar aku rasakan. Kamu sosok yang istimewa, dan memberikan
kesan yang mendalam di hatiku. Aku gak bisa melihat lelaki lain, di mataku
hanya ada kamu”. “Aku lega Indira mendengarnya. Di hatiku juga hanya ada kamu.
Kamu mau kan kita menjalin hubungan lagi. Kamu mau jadi calon istriku?” “Apa? Calon istri?” “Terlalu dini Rasyid,
kita butuh waktu untuk saling mengenal dan LDR, itu penuh risiko”. “Kamu sudah
sangat mengenal aku, kesetiaan kamu menunggu aku selama ini, sudah menunjukkan
kesetiaanmu. Aku yakin kau adalah jodoh yang disiapkan Allah untukku”. Indira
menatap mata Rasyid, mencari keseriusan disana. Apakah Rasyid becanda. “Sudahlah
Rasyid, kamu jangan bercanda”. “Aku tidak bercanda Indira, Aku serius. Will you
marry me?” Rasyid berlutut menghadapnya dan
mengeluarkan kotak yang berisi cincin yang sangat indah berbentuk karang. Kapan
Rasyid menyiapkan cincin? Cincinnya benar-benar
indah. Hatiku menghangat. Rasyid adalah pria yang sering hadir dalam
mimpiku, tak sengaja ikut dalam setiap do’aku, sosok yang selalu kunanti, sosok yang kukagumi dan kurindukan. Sosok yang meningkatkan rasa ingin tahuku.
Rasyid-lah yang membuatku menjadi stalker. Rasyid pula yang membuatku bekerja lebih
keras, dan aku yakin suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kami, dan pada saat
itu tiba aku sudah menjadi seseorang yang diperhitungkan sehingga aku pantas
buatnya. Aku tidak perlu berfikir panjang lagi. Aku pun yakin Rasyid adalah jodoh
yang disiapkan Allah untukku. Tanpa penuh keraguan aku menjawab. “Yes, I do”.
Rasyid melengkungkan senyum yang paling indah. Aku sangat bahagia.
Pantai Carocok menjadi
saksi kebahagiaan yang kami rasakan. Hujan
berhenti dan pelangi melukis langit dengan indahnya. Dalam hati, aku berdo’a,
Ya allah semoga kebahagiaan kami ini berlangsung selamanya. Semoga kami berjodoh
dan jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Amiin
ya rabbal’alamiin. Mereka berdua menyisiri pantai, bermain ombak, dan menyusuri
jembatan sambil melihat pantai yang sangat indah. Mereka berkeliling pantai,
melihat-lihat kerajinan karang yang dijajakan ibu-ibu di sekitar pantai. Semuanya
benar-benar indah. Tempat yang menakjubkan. Mereka benar-benar menikmati
liburan ini. Mereka benar-benar diliputi kebahagiaan tiada tara.
-TAMAT-