Rabu, 04 September 2013

DIA


Pantai Carocok, Painan, Pesisir Selatan
Angin yang berhembus sepoi-sepoi, laut yang biru, pasir yang putih, ombak yang deras memecah karang. Masterpiece dari Sang Pencipta. Matahari yang sinarnya tidak begitu menyengat, air laut yang surut sehingga karang-karang dan udang yang bersembunyi malu-malu dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini benar-benar indah dan surgawi. Tempat ini masih sama seperti lima tahun yang lalu, masih memukau, masih ramah terhadapnya, masih indah, masih menyenangkan bahkan tempat ini jauh lebih bagus dari sebelumnya. Pantai yang landai, air yang bersih, pasir yang putih, kerajinan dari karang yang begitu indah semua itu benar-benar membuatku merindukan tempat ini. Pantai ini telah menjadi salah satu destinasi pantai favoritku. Semua nostalgia lima tahun yang lalu berkelabat di benakku. Aku menikmati setiap keindahan dan kedamaian yang ditawarkan pantai ini dan menyatu dengannya. Sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingku. 
“Pantai ini masih tetap menakjubkan seperti lima tahun lalu ?” Tanpa mengalihkan pandangan, spontan aku mengangguk. Kenapa suara orang ini begitu familiar di telingaku? Suara ini, apakah ini dia? Benarkah yang mengajakku bicara ini dia yang selalu aku nantikan, selalu aku rindukan, selalu hadir dalam do’aku? Aku menoleh ke samping dan mendongakkan kepala ke atas. “Rasyid, benarkah ini kau Rasyid?” “Apakah aku sedang bermimpi?” Indira mengerjapkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Iya, ini aku Rasyid, Indira”. “Ini sakit atau tidak?” Rasyid memukul lengan Indira, sambil menahan tawa. Ini tidak mimpi. Tuhan telah mengabulkan do’a-do’aku, ucapku dalam hati. “Awww sakit, kau benar-benar mengagetkanku, dan aku gak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini SS”. Rasyid tersenyum melihat reaksi Indira. “Kamu masih ingat panggilan itu?” Indira tak menjawab, ia terdiam dan menunuduk, tadi ia keceplosan, memanggil Rasyid dengan SS, panggilan akrab yang mereka ciptakan yang berarti special someone.
Kecanggungan pun terjadi. Indira menetralisir suasana dengan menanyakan kabar Rasyid. “Udah lama kita gak bertemu, bagaiman kabarmu sekarang Syid?” “Aku sehat-sehat aja Indira, kamu sendiri bagaimana?” “Seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat” . Rasyid menjawab dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Mengapa kamu ada disini?”tanya Indira.   “Kamu juga, mengapa ada disini, bukannya kamu di Jakarta?” Rasyid balik bertanya. “Aku lagi cuti, kemarin pagi tiba di Padang, lusa balik ke Jakarta, makanya aku sempatin kesini hari ini. Aku kangen sama keluarga disini. Dan aku kangen pantai ini, itung-itung buat refreshing. Rasyid mengamati Indira, dia masih seperti dulu, ramah, penuh senyum dan ceplas-ceplos. Aku sangat merindukan senyum ini, suara ini selalu tergiang-ngiang di telingaku. Entah mengapa aku selalu sulit bernafas setiap bertemu dengannya. “ Aku juga lagi cuti, aku butuh waktu untuk merefresh otak, hati dan pikiranku. Kau masih seperti dulu SS, tampan, berwibawa, necis dan hangat. Kenapa hatiku selalu berdebar-debar begini, batin Indira.
 “Aku merasa dejavu, kita pernah mengalami ini, hari yang indah dan membahagiakan beberapa tahun yang lalu. “Lima tahun yang lalu, kita pernah kesini, koreksi Rasyid. “Hari itu memang indah, air laut yang surut, udang dan kepiting yang malu-malu bersembunyi di balik karang, hujan yang turun, membuat kita berteduh di tempat ini”. “Indira, kamu masih mengingat panggilan itu, apakah segala kenangan kita juga masih  kau ingat, apa itu artinya, masih ada aku di hatimu?” Glek…Indira terhenyak di tempat duduknya. Pertanyaan Rasyid menohok hatinya. “A..a..aku.. “ Indira tergagap. Dia lalu terdiam sesaat, mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan itu. Aku memang tidak pernah jujur terhadapmu, tapi satu yang harus kamu tahu, kamu benar-benar berkesan bagiku. Sejak aku membaca surat itu, entah kenapa sejak saat itu hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Hatiku telah terkunci untukmu. Aku tak bisa berpaling ke lain hati. Bagiku kau juga special someone-ku, Indira”. “Sebenarnya, sampai sekarang kau masih ada di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikanmu, Syid.”
“Di hatiku juga hanya ada kamu. Kamu mau kan kita menjalin hubungan lagi. Kamu mau jadi calon istriku?” 
“Apa? Calon istri?”
“Terlalu dini Rasyid, kita butuh waktu untuk saling mengenal“. Aku yakin kau adalah jodoh yang disiapkan Allah untukku”. Indira menatap mata Rasyid, mencari keseriusan disana.
“Aku tidak bercanda Indira, Aku serius. Will you marry me?”  Rasyid berlutut menghadapnya dan mengeluarkan kotak yang berisi cincin yang sangat indah berbentuk karang. Kapan Rasyid menyiapkan cincin? Cincinnya benar-benar  indah. Hatiku menghangat. Rasyid adalah pria yang sering hadir dalam mimpiku, dia tak sengaja ikut dalam setiap do’aku, sosok yang selalu  kunanti, sosok yang  kukagumi dan kurindukan.  Rasyid yang membuatku bekerja lebih keras, dan aku yakin suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kami, dan pada saat itu tiba aku sudah menjadi seseorang yang diperhitungkan sehingga aku pantas buatnya. Aku tidak perlu berfikir panjang lagi. Aku pun yakin Rasyid adalah jodoh yang disiapkan Allah untukku. Tanpa penuh keraguan aku menjawab. “Yes, I do”. Rasyid melengkungkan senyum yang paling indah. Aku sangat bahagia.

“My Senior My Secret Admirer”


“My Senior My Secret Admirer”
Ijinkan aku menceritakan sosokmu, sosok yang menginspirasiku, yang menjadi secret admirerku selama ini.  Aku mengenalmu di saat BAKTI a.k.a ospek, kita beda 2 tahun, kita satu jurusan, kau seniorku. Love at the first sight. Sosok itu mulai menempati relung hatiku sekitar 2 tahun yang lalu.
Begitu banyak kenangan yang bisa ku urai tentang nya, salah satunya tentang awal pertemuan kita, saat BAKTI,,

v  Pertemuan pertama itu gak akan pernah aku lupa, dia trsnyum ramah padaku. Ketawa renyah karena lelucon temannya waktu aku lewat di depannya, dari yang aku amati, dia pribadi yang menyenangkan, punya banyak teman, dan dapat aku simpulkan dia cowowk yang baik dan ramah.
Aku benar-benar memikmati moment itu, benar-benar berkesan buatku.
Saat jalan semester 3
v  Seiring berjalannya waktu, ada rasa yang tumbuh di hatiku. Aku sadari aku mulai menyukainya. Tiba-tiba cinta datang padaku. Aku tak tahu darimana awalnya. Rasa ini terus tumbuh. Aku sering merindukannya. Aku sering salting ketemu dengannya. Aku senang sekali melihat senyumnya. Aku senang sekali mendengar tawanya. Aku gak tahu kenapa bisa begini. Bagiku dia berbeda dari cowok yang lain ataupun senior yang lain. Gaya berpakaiannya yang rapi, necis dan potongan rambutnya yang cepek dan bersih benar-benar memikat. Cara dia ngomong benar-benar membiusku. Selera humornya juga oke. Dia juga peduli dan perhatian sama teman-temannya. (dia tampak cakep banget kalau  memakai kaus berkerah warna merah, atau kemja biru langit, selain itu potongan rambutnya yang pendek bikin dia terlihat bersih dan rapi).
Dari hari ke hari aku yakin cinta itu telah berurat berakar di hatiku. Aku semakin menyayanginya, merindukannya, mengaguminya. Tapi sayang aku hanya bisa melakukan itu semua dari jauh, karena dia tidak pernah mengetahuinya. Aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan semuanya. Aku hanya bisa memendamnya. Bahkan sahabatku pun tak pernah tahu hal ini.
Sampai sekarang aku masih tetap mencintaimu bang, walaupun sudah enam tahun aku menyimpan perasaan ini. Aku selalu berharap dia merasakan hal yang sama.
*buat seseorang yang gak akan pernah tahu kalau aku mencintainya.  

Minggu, 21 Juli 2013

iseng2 bikin Cerpen "Love letter, love rain"


Cerpen Love letter, love rain
Nama pena : Andromeda

Langit tampak sangat kelam. Angin berhembus dengan kencang. Tak berapa lama hujan pun turun dengan derasnya. Aku masih di lokal, kuliah terakhir untuk hari ini. Dosen yang membosankan, hobi member tugas seabrek, kelas yang penuh, karena ini mata kuliah umum, jadi antara kelas genap dan ganjil digabung. Hujan yang turun mempengaruhi mood belajarku. Untung aku bawa payung, jadi aku gak khawatir saat pulang nanti. Aku tak akan kebasahan. Lima belas menit kemudian kelas usai dan seperti biasa dosen member kami oleh-oleh tugas latihan 1 sampai dengan latihan 7 pada materi yang dibahas hari ini. Ajaib banget ni dosen, apa yang ia jelaskan tak dimengerti, mana diberi tugas seabrek lagi. Apakah seperti ini sikap dosen?
Aku langsung keluar lokal, dan bergegas pulang. Berjalan cepat di koridor dan tangga. Hujan turun dengan deras. Jika ada yang memaksa berjalan di bawahnya tanpa payung, pasti besoknya langsung flu. Aku bentangkan payung dan langsung menuju parkiran dan jalan raya menunggu angkot. Tiba-tiba disebelahku berdiri seorang cowok. “Bolehkah aku memakai payung itu berdua denganmu?” cowok ini kan satu kelas denganku tadi. “Kamu mau kemana?” “Aku mau ke parkiran itu, tidakkah kamu keberatan aku menumpang sampai sana?” “Oke, boleh kok.” “Thanks ya, oh ya btw namaku Rasyid, kelas ganjil, namamu siapa?”  “Namaku Indira, kelas genap, pantesan kita hanya bertemu di mata kuliah ini, beda kelas ternyata”.
Kami pun berjalan beriringan di bawah payung yang sama. Aku menyesuaikan langkahku dengannya, agar salah satu dari kami tidak ada yang basah. “BP kamu berapa?” “90, kamu?” “107” “Rumahmu dimana? Biar aku antar” aku tinggal lumayan jauh dari sini, di lolong, kalau kamu?” “ aku di pengambiran”. Ritme langkah yang teratur, udara yang dingin membuat perjalanan menuju parkiran itu harus dipercepat. Kami sampai di parkiran, Rasyid langsung membuka bagasi motornya, memakai mantel dan akan mengendarai motornya. “Terima kasih ya Indira, kamu mau nebeng?” “Tidak, aku naik angkot saja, lagian rumah kita tidak searah. Kamu hati-hati ya”. “Ok, Kamu juga hati-hati, sekali lagi terima kasih ya”.
*****
          Perkenalanku dengannya terjadi di saat hujan. Pertemuan selanjutnya juga terjadi di saat hujan. Aku sedang mengerjakan tugas di lantai dasar perpustakaan. Gerimis turun, namun langit terlihat cerah. Ini hujan panas, biasanya hanya sebentar. Tiba-tiba Rasyid datang, dan berlari menujunya. Sepertinya ia kehujanan dan ia duduk di sampingnya, sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan. “Hai Rasyid” Hai Indira” “Kita ketemu lagi”. “Iya” Aku melanjutkan mengerjakan tugas yang tinggal satu nomor lagi dan setelah selesai aku langsung ke lokal karena masih ada satu mata kuliah lagi untuk hari ini. Akhirnya selesai juga. “Kamu kehujanan ya Syid?” “Iya nih In”.  “Kamu darimana?” “Aku tadi ke perpus terus ke fakultas, aku baca pengumuman, kita diwajibkan ikut salah satu organisasi kampus atau UKM, Unit Kegiatan Mahasiswa, kemudian aku mengumpulkan informasi, eh tiba-tiba hujan turun. Mana aku parkir motor di perpus lagi, makanya aku balik lagi kesini dalam keadaan basah”,jelas Rasyid.“Mengapa kamu gak nunggu hujan reda dulu baru jalan?” Aku takut hujan ni gak berenti-berenti, makanya aku nekat aja”, jawab Rasyid sambil cengengesan.  “Oh gitu, thanks ya Syid atas informasinya, aku pergi dulu ya, ada kelas  nih. Bye Syid”. “Bye In”
*****

Indira, gadis manis yang mulai menapaki karir di dunia pasar modal dan saham. Pekerjaannya sebagai analis di sekuritas terkemuka ibukota menjanjikan pengembangan karir yang pesat dan kemapanan. Dia harus memberikan rekomendasi yang akurat kepada nasabahnya dan mengomunikasikannya secara lisan maupun tulisan dengan baik. Indira bukanlah orang baru di dunia pasar modal khususnya saham. Selama tiga tahun studinya di universitas ternama di kotanya, dia telah aktif di organisasi kampusnya. Bahkan dia bisa menebak dengan jitu suatu saham akan mengalami kenaikan harga, penurunan harga atau stabil dalam waktu sekejap dengan hasil yang akurat. Keahlian ini ia peroleh karena ia selalu  menganalisa dan mengumpulkan fakta-fakta serta melakukan riset. Ia meyakini sejarah pasti berulang dan semua harga yang akan terbentuk ada polanya. Selain itu ia juga terus mengasah instingnya, mengaitkan antara analisa fundamental dengan analisa teknikal serta psikologi para trader. Karirnya mulai menanjak, dan ia mulai menjadi sosok yang diperhitungkan analisanya. Di usia 24 tahunnya ini, semua keinginannya hampir tercapai sepenuhnya, tapi ada satu hal yang belum tercapai yaitu kekasih. Sampai sekarang dia masih single.
Tiga tahun sudah dia di ibukota. Rutinitas yang padat, begitu banyak orang yang ia temui, tapi tak satupun yang memikat hatinya. Setiap pria yang ia temui berlalu begitu saja, tak ada yang berkesan. Tak ada yang menbuat hatinya berdebar-debar, tak ada yang hadir di mimpinya, bahkan tak ada yang secara tidak sengaja muncul dalam do’anya. Dia selalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa aku tak pernah merasakan sesuatu terhadap laki-laki yang bahkan laki-laki itu masuk dalam kriteriaku? Mengapa semuanya tampak biasa saja?” Tiba-tiba muncul kesadaran dari dalam hatinya, “Apakah karena dia? Apakah dia jodoh yang disiapkan Allah untukku? Masih adakah dia di hatiku? Itukah sebabnya sampai sekarang sekarang aku tak bisa melihat laki-laki lain? Aku gak tahu lagi kabarnya,kita udah loss contact hampir 4 tahun, apakah mungkin aku masih menantinya?” “Apakah mungkin surat yang aku buat itu menjadi janjiku dan mengikatku padanya?” “Setiap kata-kata yang kogeraskan benar-benar jadi kenyataan sekarang.” Arrrggghhhhh...... Aku ingin pulang!!!!
Rasyid, cowok tampan yang mulai mapan. Pekerjaannya sebagai Asisten Manajer Keuangan di salah satu rumah sakit ternama di kotanya. Dia pekerja keras dan perfeksionis. Teman-teman seusianya sudah memiliki kekasih, namun ia belum juga menemukan belahan jiwanya. Ia masih betah melajang. Silih berganti cewek menghampiri, tapi tak satupun yang ia seriusi untuk menjadi kekasih hati. Ia selalu bertanya kepada diri sendiri, mengapa bisa begitu. Logikanya berkata, “Aku belum menemukan orang yang tepat, makanya aku masih single di usia 24 tahun ini”. Namun hatinya berkata, “Apa karena dia aku seperti ini? Apakah dia jodoh yang disiapkan Allah untukku? Aku mempercayai kata-kata yang ia tulis di surat itu, aku menantinya, menutup hatiku, aku berharap dia adalah jodohku, sehingga aku gak bisa melihat perempuan lain? Aku gak tahu dia masih memiliki rasa yang sama atau tidak, dia masih menantiku atau tidak, bahkan dia masih single atau tidak? Aku bahkan masih ingat setiap kata yang ia tulis di surat yang dia bilang “Ucapan Perpisahan” itu”  benar-benar menyentuh hati dan membuatku meneteskan air mata. “Oh Tuhan, berikan aku jalan keluar. Semua ini memusingkanku.”  Arrrrgggghhhhh….Aku butuh liburan!!!!!!
*****
 Ucapan perpisahan
Dear Rasyid,
Salam hangat terdahsyat dari seseorang yang pernah ada dalam hidupmu, di manapun kamu berada ....
Aku gak tau harus mulai darimana, terlalu banyak yang ingin aku ungkapkan kepadamu. Mengapa harus lewat surat? Aku punya dua alasan untuk itu. Pertama, aku sering speechless setiap ngobrol denganmu, tiba-tiba blank gitu. Kedua, kemampuan lidahku tidak sebagus kemampuan menulisku, terkadang ada banyak hal yang tidak tersampaikan oleh lidahku ini. Tetapi kalau aku tulis, semua terungkapkan dengan sempurna.
Aku nulis surat ini untuk mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Agar semua kesalahpahaman dan ketidaknyamanan yang terjadi di antara kita tak ada lagi. Sehingga hubungan kita kembali lagi seperti semula. Dekat dan akrab layaknya saudara.
Semoga kamu sehat dan bahagia selalu dimanapun kamu berada serta semua urusanmu diberi kelancaran oleh Allah SWT. HP-ku crash Rasyid, aku kehilangan nomor kamu, jadinya kita loss contact. Setelah kita tidak dalam satu komunitas lagi dan lulus, aku nggak dengar lagi kabar tentangmu. Tetapi aku sesekali ngecek akun facebookmu, bukan untuk  comment ataupun kirim message. Itu aku lakukan hanya untuk sekadar memenuhi rasa penasaranku, akunmu masih aktif atau tidak.
Aku tak bisa melupakanmu, kamu telah menempati ruang khusus di hatiku. Bahkan, sadar ataupun tidak, aku sering menyertakanmu dalam setiap do’aku. Kamu masih ingat percakapan kita, dalam persiapan sebuah event, tentang asal muasal panggilan “SS”. Menurut kamu “SS” itu adalah “Seksi Sibuk”, dengan alasan kita melakukan banyak hal yang bukan tanggung jawab kita. Kita memiliki kelapangan waktu sehingga bisa menghandle hal itu (bersih-bersih, mendekor, nyari kertas dan bingkai buat sertifikat, beli bunga, beli pita dan pretelannya, bahkan kamu sempat-sempatnya pula beli sepatu pantofel baru buat dipakai di event itu). Kita benar-benar jadi orang yang paling sibuk, sampai-sampai gak ada foto kita di semua dokumentasi yang ada. Karena kita selalu sibuk, dan ngurusin semua hal, sampai melupakan sesi foto-foto. Kita berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada para narasumber, undangan dan tamu yang hadir. Saat itu aku setuju, SS itu Seksi Sibuk, tetapi sekarang aku punya arti tambahan dari SS itu, yaitu “Special Someone”, karena itulah arti dirimu di hatiku. Kamu berkesan bagiku.
Masih lekat dalam ingatanku, bagaimana keakraban dan kedekatan hubungan yang terjalin antara kita. Salah tingkah dan tersipu-sipu yang kerap muncul. Perasaan dihargai diistimewakan, didengarkan sarannya, dipertimbangkan masukannya, persahabatan yang erat, kepedulian yang tercipta, kepercayaaan dan keceriaan yang ada yang tak bisa hilang dalam ingatan. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar SS. Melupakan kebersamaan kita dan semua kisah yang telah tercipta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses. Semua cerita, penempaan ilmu baru dari para ahlinya, simulasi-simulasi yang menambah pengetahuan kita, perjuangan dan pengorbanan dalam mewujudkan cita-cita, romansa dan kekeluargaan yang tercipta, dan tenggang rasa dalam mewujudkan tujuan bersama begitu membekas di jiwa.
Aku tidak pernah tau apa arti diriku bagimu, karena kita tidak pernah jujur terhadap perasaan masing-masing. kita tak wajib melabeli hubungan yang telah terjalin ini. Cukup jujur dan ikuti hati nuranimu, Rasyid. Seperti quote yang aku baca di novel LCHP karya Karla M. Nashar, “melabeli hanya akan memberikan batasan pada sesuatu. Banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dilabeli dengan kata-kata yang punya keterbatasan. Padahal untuk bisa memahami hal-hal yang tidak bisa dilabeli, kita hanya perlu jujur merasakannya dengan hati. Sesederhana itu”.
Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku Rasyid. Kamu telah membuat hidupku lebih berwarna. Semua yang telah terjadi adalah proses yang harus aku lalui menuju kedewasaan. Kamu telah mengajarkan banyak hal, kerja keras; persahabatan; pengorbanan; kesetiaan; kasih sayang’ kepeduliaan; saling menghargai; komitmen; pengabdian dan sikap lainnya yang harus dimiliki dalam menjalani hidup dan dinamikanya. Terima kasih juga kamu telah menyempatkan hadir di acara penting dalam jenjang pendidikanku. Aku maklum dengan kesibukanmu, jadi aku tidak terlalu berharap kamu akn datang. Surprise!!! ternyata kamu datang, padahal saat itu hujan dan kamu dalam keadaaan sangat capek. I’m happy and appreciate it Rasyid. Aku benar-benar menghargai pengorbananmu, walaupun aku gak bisa ketemu kamu secara langsung, aku pulang lebih awal karena sedang flu.
Maafkan aku jika selama ini aku berbuat salah dan khilaf terhadapmu Rasyid. Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan jauh dari kesempurnaan. Maafkan aku, aku terlalu nyaman memanggilmu dengan SS daripada namamu. Bukan berarti aku tidak menghargai nama yang telah diberikan oleh orangtuamu, entahlah, SS itu begitu simple dan terdengar lebih indah. Mengenai kelanjutan hubungan ini aku serahkan kepada sang Pencipta. Sekarang ini aku fokus pada peningkatan kualitas diri, mengejar mimpi, membahagiakan kedua orangtua dan keluargaku, serta memberikan kebahagiaan dan manfaat bagi sesama. Aku akan tetap menjaga tali silaturrahim denganmu. Aku percaya nanti akan ada “the right man  in the right place at the right time” buatku. “Semua akan indah pada waktunya”. Dan aku yakin janji allah ini akan berlaku,”Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk lelaki yang baik”.
Hanya ini yang bisa aku tulis, semoga aku tidak mengejutkanmu ataupun menyakiti hatimu. Lega rasanya!!! Thx udah nyempatin baca dan maaf kalau kepanjangan. Tujuanku hanya satu, biar semua clear, clear, clear. Hehehe  ^^
Sincerely yours,
Indira
*****

Pantai Carocok, Painan, Pesisir Selatan
Angin yang berhembus sepoi-sepoi, laut yang biru, pasir yang putih, ombak yang deras memecah karang. Karang yang berjejer rapi ban elok dipandang mata. Masterpiece dari Sang Pencipta. Banana boat yang sangat diminati pengunjung, bahkan mereka rela antri sepanjang 5 meter. Matahari yang sinarnya tidak begitu menyengat, air laut yang surut sehingga karang-karang dan udang yang bersembunyi malu-malu dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini benar-benar indah dan surgawi. Tempat ini masih sama seperti lima tahun yang lalu, masih memukau, masih ramah terhadapnya, masih indah, masih menyenangkan bahkan tempat ini jauh lebih bagus dari sebelumnya. Flying fox yang tetap menantang, banana boat yang masih menguji nyali, jembatan yang eksotis, deburan ombak yang mendebarkan. Pantai yang landai, air yang bersih, pasir yang putih, kerajinan dari karang yang begitu indah semua itu benar-benar membuatku merindukan tempat ini. Pantai ini telah menjadi salah satu destinasi pantai favoritku. Semua nostalgia lima tahun yang lalu berkelabat di benakku. Setiap adegan yang telah terjadi berpacu-pacu muncul. Semua kenangan itu masih kuingat dengan jelas. Rasa itu masih ada. Akupun menghirup nafas dalam-dalam sambil membuang semua beban di pikiranku. Aku menikmati setiap keindahan dan kedamaian yang ditawarkan pantai ini dan menyatu dengannya. Sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingku. 
“Pantai ini masih tetap menakjubkan seperti lima tahun lalu ?” Tanpa mengalihkan pandangan, spontan aku mengangguk. Kenapa suara orang ini begitu familiar di telingaku? Suara ini, apakah ini dia? Benarkah yang mengajakku bicara ini dia yang selalu aku nantikan, selalu aku rindukan, selalu hadir dalam do’aku? Aku menoleh ke samping dan mendongakkan kepala ke atas. “Rasyid, benarkah ini kau Rasyid?” “Apakah aku sedang bermimpi?” Indira mengerjapkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Iya, ini aku Rasyid, Indira”. “ Kamu kenapa begitu shock bertemu denganku, seperti bertemu hantu saja?” “Ini sakit atau tidak?” Rasyid memukul lengan Indira, sambil menahan tawa. Ini tidak mimpi. Tuhan telah mengabulkan do’a-do’aku, ucapku dalam hati. “Awww sakit, kau benar-benar mengagetkanku, dan aku gak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini SS”. Rasyid tersenyum melihat reaksi Indira. “Kamu masih ingat panggilan itu?” Indira tak menjawab, ia terdiam dan menunuduk, tadi ia keceplosan, memanggil Rasyid dengan SS, panggilan akrab yang mereka ciptakan yang berarti special someone.
Kecanggungan pun terjadi. Indira menetralisir suasana dengan menanyakan kabar Rasyid. “Udah lama kita gak bertemu, bagaiman kabarmu sekarang Syid?” “Aku sehat-sehat aja Indira, kamu sendiri bagaimana?” “Seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat” . “Btw kamu semakin aja nih,” candanya. “Semakin apa nih? Makin tampan, makin mapan, makin memikat, makin oke, makin macho atau makin gagah ?” Rasyid menjawab dengan senyuman lebar di wajahnya. Indira menjawabnya dengan tawa.. “HAHAHAHAHAHA” “ Kamu masih seperti dulu ya, egomu gak pernah hilang. Sebernarnya semua pengakuanmu tadi benar, tetapi kalau aku akui, egomu selangit nanti”. “HAHAHAHA”. ”HAHAHAHA” mereka pun tertawa bersama.
“Mengapa kamu ada disini?”tanya Indira.   “Kamu juga, mengapa ada disini, bukannya kamu di Jakarta?” Rasyid balik bertanya. “Aku lagi cuti, kemarin pagi tiba di Padang, lusa balik ke Jakarta, makanya aku sempatin kesini hari ini. Aku kangen sama keluarga disini, udah lama juga gak pulang. Dan aku kangen pantai ini, itung-itung buat refreshing. Main air, main flying fox dan main banana boat, dan jalan-jalan di sepanjang pantai sambil cari karang dan udang. Kalau kamu? “ Rasyid mengamati Indira, dia masih seperti dulu, ramah, penuh senyum dan ceplas-ceplos. Aku sangat merindukan senyum ini, suara ini selalu tergiang-ngiang di telingaku. Entah mengapa aku selalu sulit bernafas setiap bertemu dengannya. “ Aku juga lagi cuti, aku butuh waktu untuk merefresh otak, hati dan pikiranku. `rutinitas pekerjaanku benar-benar membuatku gila. Ada rencana lagi rumah sakit ini akan buka kantor cabang di Jakarta, untung saja semuanya sudah selesai, jadi aku bisa liburan dengan tenang.” Kau masih seperti dulu SS, tampan, berwibawa, necis dan hangat. Kenapa hatiku selalu berdebar-debar begini, batin Indira. “Kau masih mau disini, aku mau mencoba flying fox.” “Aku ikut, aku juga mau main. Yuk” Rasyid menggenggam tangan Indira dan mereka berjalan berdampingan menuju tempat antrian. Indira melihat ke tangannya, genggaman itu masih hangat, ia merasa terlindungi, diistimewakan, semua kenangan indah yang mereka alami berkelabat seketika di pikirannya. Lumayan lama menunggu, akhirnya giliran mereka tiba. Benar-benar mengasyikkan dan indah sekali pemandangan pantai ini dari atas. Subhanallah, benar-benar indah ciptaan Sang Pencipta.  Ketinggian yang sekitar 25 meter dari permukaan laut dan panjang sekitar 10 meter, benar-benar menguji adrenalin Indira.
Begitu menginjakkan kaki di daratan, gerimis turun. Hujan selalu jadi saksi bisu pertemuan kami. “Cuaca di daerah ini sulit ditebak. Hujannya mulai deras In, kita berteduh dulu di warung depan itu ya?” “ Iya, yuk Syid”.  Mereka berlari-lari menuju warung yang dimaksud. Tangan Indira selalu digenggam Rasyid. Indira tidak menolak dan keberatan, malah dia merasa nyaman dan terlindungi. “Aku pesan kopi panas, untuk menghangatkan badan, kamu mau makan atau minum apa?” “Aku teh panas dan mie rebus aja, flying fox tadi menguras energiku”. “Hehehe”.
“Rasyid, ada yang ingin aku tanyakan….”                                                                                  “ Indira aku punya pertanyaan,…” Mereka serempak bersuara.                                        “Kamu duluan deh Syid.”  “Kamu aja Indira yang duluan. Ladies first “.  “Aku merasa dejavu, kita pernah mengalami ini, hari yang indah dan membahagiakan beberapa tahun yang lalu. “Lima tahun yang lalu, kita pernah kesini, koreksi Rasyid. “Hari itu memang indah, air laut yang surut, udang dan kepiting yang malu-malu bersembunyi di balik karang, hujan yang turun, membuat kita berteduh di tempat ini”. “Indira, kamu masih mengingat panggilan itu, apakah segala kenangan kita juga masih  kau ingat, apa itu artinya, masih ada aku di hatimu?” Glek…Indira terhenyak di tempat duduknya. Pertanyaan Rasyid menohok hatinya. “A..a..aku.. “ Indira tergagap. Dia lalu terdiam sesaat, mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan itu. Aku memang tidak pernah jujur terhadapmu, tapi satu yang harus kamu tahu, kamu benar-benar berkesan bagiku. Sejak aku membaca surat itu, entah kenapa hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Namun, secara tak sengaja hatiku telah terkunci untukmu. Kata-kata yang kau tulis merasukiku. Aku tak bisa berpaling ke lain hati. Bagiku kau juga special someone-ku”. Indira mendengarkan penjelasan Rasyid dengan saksama, dia terhenyak dan matanya berkaca-kaca. “Kalau kamu belum siap menjawab pertanyaan tadi, jangan memaksakan diri, nanti saja”. “ Apa aku harus jujur Rasyid?” hujan mulai berhenti, mereka selesai makan dan berjalankeluar warung. Mereka mulai menyusuri jembatan, “Terserah kamu, aku sudah ungkapkan semua, apa kamu mau memperpanjang ketidakjelasan status antara kita?”
“Sebenarnya, sampai sekarang kau masih ada di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Saat menulis surat itu aku sudah berusaha berfikir jernih, aku belum yakin dengan apa yang benar-benar aku rasakan. Kamu sosok yang istimewa, dan memberikan kesan yang mendalam di hatiku. Aku gak bisa melihat lelaki lain, di mataku hanya ada kamu”. “Aku lega Indira mendengarnya. Di hatiku juga hanya ada kamu. Kamu mau kan kita menjalin hubungan lagi. Kamu mau jadi calon istriku?”  “Apa? Calon istri?” “Terlalu dini Rasyid, kita butuh waktu untuk saling mengenal dan LDR, itu penuh risiko”. “Kamu sudah sangat mengenal aku, kesetiaan kamu menunggu aku selama ini, sudah menunjukkan kesetiaanmu. Aku yakin kau adalah jodoh yang disiapkan Allah untukku”. Indira menatap mata Rasyid, mencari keseriusan disana. Apakah Rasyid becanda. “Sudahlah Rasyid, kamu jangan bercanda”. “Aku tidak bercanda Indira, Aku serius. Will you marry me?”  Rasyid berlutut menghadapnya dan mengeluarkan kotak yang berisi cincin yang sangat indah berbentuk karang. Kapan Rasyid menyiapkan cincin? Cincinnya benar-benar  indah. Hatiku menghangat. Rasyid adalah pria yang sering hadir dalam mimpiku, tak sengaja ikut dalam setiap do’aku, sosok yang selalu  kunanti, sosok yang  kukagumi dan kurindukan.  Sosok yang meningkatkan rasa ingin tahuku. Rasyid-lah yang membuatku menjadi stalker. Rasyid pula yang membuatku bekerja lebih keras, dan aku yakin suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kami, dan pada saat itu tiba aku sudah menjadi seseorang yang diperhitungkan sehingga aku pantas buatnya. Aku tidak perlu berfikir panjang lagi. Aku pun yakin Rasyid adalah jodoh yang disiapkan Allah untukku. Tanpa penuh keraguan aku menjawab. “Yes, I do”. Rasyid melengkungkan senyum yang paling indah. Aku sangat bahagia.
Pantai Carocok menjadi saksi kebahagiaan yang  kami rasakan. Hujan berhenti dan pelangi melukis langit dengan indahnya. Dalam hati, aku berdo’a, Ya allah semoga kebahagiaan kami ini berlangsung selamanya. Semoga kami berjodoh dan jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Amiin ya rabbal’alamiin. Mereka berdua menyisiri pantai, bermain ombak, dan menyusuri jembatan sambil melihat pantai yang sangat indah. Mereka berkeliling pantai, melihat-lihat kerajinan karang yang dijajakan ibu-ibu di sekitar pantai. Semuanya benar-benar indah. Tempat yang menakjubkan. Mereka benar-benar menikmati liburan ini. Mereka benar-benar diliputi kebahagiaan tiada tara.
-TAMAT-

JBOYFRIEND OF INDAH DREAM


dear bg ino yang unyu-unyu.......
sore bg ino..
ini surat pertama ku untukmu...
sebelumnya ucapin met ultah dulu dong buat aku..kemarin aku ultah...gak berasa waktu berlalu begitu cepat..usiaku bertambah dan harus makin matang ke depannya dalam berbagai hal...

bagaimana ya menggambarkan cowok impian ku???
secara aku belum pernah punya cowok..
emang sih sebagian orang gak percaya,'gila loe masak iya umur segini belum punya cowok, adek gw aj yang masih bau kencur udah gonta-ganti cowok,masak iya loe gak laku2'.
duuuugh..menohok kata2nya bg..sebenarnya bukan karena gak laku bg,bukan gk ada yang deketin,tp karena aku ngerasa sekarng bukan waktu yg tepat aj..aku masih fokus ama pendidikan n memperbaiki kualitas diri..karena aku percaya pada firman Allah 'laki-laki baik-baik untuk perempuan baik-baik dan perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik'. jadi aku percaya semua akan indah pada waktunya, dan allah sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukku kelak.

Tapi,karena disini harus diraikan dengan detail tentang cowok impian, baiklah aku akan coba mengimajinasikannya....
 kriteria cowok itu gak muluk2 bg ino..semua nyata,terpampang jelas,bukan fantasi belaka melainkan sebuah realita*syahrini's style.
ini kriterianya bg (cekidot) :
1. dia harus yang seiman denganku...
bullshit,setiap agama itu sama..gimana jadinya nanti satu kapal 2 nakhoda, satu ke mesjid yang lain ke gereja, ntar anak2ku bingung deh milih agamanya...(wiss,udah mikir kejauhan,pacar lsg jadi suami). cowok adalah pemimpin perempuan, jadi dia harus bisa jadi imam buatku di dunia dan di akhirat.
2. dia harus mapan....
mapan disini bukan berarti kaya raya, tapi dia memiliki pekerjaan yang mampu menghidupiku, gak terlilit hutang, jeli membaca setiap peluang, pekerja keras dan harus lebih besar penghasilannnya dari aku.. jika di bawah aku,maka akan banyak konflik nantinya..'men's ego'...
3. dia harus jujur...
dia gak harus bohong untuk menyenangkanku..katakanlah hal yang sebenarnya kepadaku walaupun pahit rasanya bagiku.aku lebih menyukai dan menghargai itu..kalau ada sikapku yang dia gak suka,ngomong aja to the point,jangan nyindir2 gitu,aku gak bakalan ngerti,ntar salah paham pula,ntar jadi konflik pula....
4. dia harus setia..
aku gak ingin diduakan dan aku gak akan menduakan..sekali aku berkomitmen dengan seseorang aku akan memegang komitmen itu dan setia padanya, karena aku tipe orang yang sulit mempercayai orang lain..sekali aku percaya ma orang,aku akan percayai ia seratus persen..tapi begitu aku dikhianati dan dikecewakan,tak mudah memberikan maaf dan menghapus jejak luka itu.
5. dia harus humoris...
aku orangnya serius, jadi aku butuh orang humoris yang bisa mengimbangi aku..segala banyolan,kekonyolan yang tercipta membuat percakapan kami jadi tidak membosankan dan setiap pertemuan yang terjadi menjadi peristiwa yang menyenangkan.
6.  Dari segi fisik,,,dia harus...
gak muluk2 bg ino,,yang penting eye catching... gak usah tinggi2 amat(karena tinggiku hanya 155cm), gak usah putih2 amat(karena kulitku sawo matang),  perutnya pelukable, dadanya bidang, tubuhnya wangi, dia bersih(kukunya gak panjang dan hitam,rambutnya disisir rapi)penampilannya rapi dan gak selengek'an.

next...kalau aku berkencan dengannya..aku pengen kencan kami penuh kenangan dan seharian penuh (3xmakan).. dimulai dari sarapan sederhana yang kami lakukan di taman yang asri, aku cinta banget dengan alam,kami berbincang2 hal yang ringan dan menyenangkan sambil membicarakan rencana masa depan..
Siangnya, kami makan siang,semua menunya aku yang siapkan,aku kan bisa masak,semua itu menu spesial... selesai lunch, kita shalat zuhur berjama'ah...betapa syahdunya di imami oleh seseorang yang kita cintai..(ngeces)..
malamnya kami dinner di tempat yang langsung di bawah cahaya bulan dan bintang. so romantic...benar2 kencan yang indah..seharian yang penuh hal-hal indah...

bg ino kalau nemuin cowok kayak gini, kabari aku ya,kenalin ke aku,bila perlu transfer ke padang ya bg...thx a lot bg..

udah dulu ya bg surat dariku ini....
balas secepatnya ya bg..
byebye bg...