Pantai Carocok, Painan,
Pesisir Selatan
Angin
yang berhembus sepoi-sepoi, laut yang biru, pasir yang putih, ombak yang deras
memecah karang. Masterpiece dari Sang Pencipta. Matahari yang sinarnya tidak
begitu menyengat, air laut yang surut sehingga karang-karang dan udang yang
bersembunyi malu-malu dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini benar-benar indah
dan surgawi. Tempat ini masih sama seperti lima tahun yang lalu, masih memukau,
masih ramah terhadapnya, masih indah, masih menyenangkan bahkan tempat ini jauh
lebih bagus dari sebelumnya. Pantai yang landai, air yang bersih, pasir yang
putih, kerajinan dari karang yang begitu indah semua itu benar-benar membuatku
merindukan tempat ini. Pantai ini telah menjadi salah satu destinasi pantai
favoritku. Semua nostalgia lima tahun yang lalu berkelabat di benakku. Aku
menikmati setiap keindahan dan kedamaian yang ditawarkan pantai ini dan menyatu
dengannya. Sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran seseorang di
sampingku.
“Pantai
ini masih tetap menakjubkan seperti lima tahun lalu ?” Tanpa mengalihkan
pandangan, spontan aku mengangguk. Kenapa suara orang ini begitu familiar di
telingaku? Suara ini, apakah ini dia? Benarkah yang mengajakku bicara ini dia
yang selalu aku nantikan, selalu aku rindukan, selalu hadir dalam do’aku? Aku
menoleh ke samping dan mendongakkan kepala ke atas. “Rasyid, benarkah ini kau
Rasyid?” “Apakah aku sedang bermimpi?” Indira mengerjapkan matanya untuk
memastikan penglihatannya. Iya, ini aku Rasyid, Indira”. “Ini sakit atau tidak?”
Rasyid memukul lengan Indira, sambil menahan tawa. Ini tidak mimpi. Tuhan telah
mengabulkan do’a-do’aku, ucapku dalam hati. “Awww sakit, kau benar-benar
mengagetkanku, dan aku gak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini
SS”. Rasyid tersenyum melihat reaksi Indira. “Kamu masih ingat panggilan itu?” Indira
tak menjawab, ia terdiam dan menunuduk, tadi ia keceplosan, memanggil Rasyid
dengan SS, panggilan akrab yang mereka ciptakan yang berarti special someone.
Kecanggungan
pun terjadi. Indira menetralisir suasana dengan menanyakan kabar Rasyid. “Udah
lama kita gak bertemu, bagaiman kabarmu sekarang Syid?” “Aku sehat-sehat aja
Indira, kamu sendiri bagaimana?” “Seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat” . Rasyid
menjawab dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Mengapa
kamu ada disini?”tanya Indira. “Kamu
juga, mengapa ada disini, bukannya kamu di Jakarta?” Rasyid balik bertanya.
“Aku lagi cuti, kemarin pagi tiba di Padang, lusa balik ke Jakarta, makanya aku
sempatin kesini hari ini. Aku kangen sama keluarga disini. Dan aku kangen
pantai ini, itung-itung buat refreshing. Rasyid mengamati Indira, dia masih
seperti dulu, ramah, penuh senyum dan ceplas-ceplos. Aku sangat merindukan
senyum ini, suara ini selalu tergiang-ngiang di telingaku. Entah mengapa aku
selalu sulit bernafas setiap bertemu dengannya. “ Aku juga lagi cuti, aku butuh
waktu untuk merefresh otak, hati dan pikiranku. Kau masih seperti dulu SS,
tampan, berwibawa, necis dan hangat. Kenapa hatiku selalu berdebar-debar
begini, batin Indira.
“Aku merasa dejavu, kita pernah mengalami ini,
hari yang indah dan membahagiakan beberapa tahun yang lalu. “Lima tahun yang
lalu, kita pernah kesini, koreksi Rasyid. “Hari itu memang indah, air laut yang
surut, udang dan kepiting yang malu-malu bersembunyi di balik karang, hujan
yang turun, membuat kita berteduh di tempat ini”. “Indira, kamu masih mengingat
panggilan itu, apakah segala kenangan kita juga masih kau ingat, apa itu artinya, masih ada aku di
hatimu?” Glek…Indira terhenyak di tempat duduknya. Pertanyaan Rasyid menohok
hatinya. “A..a..aku.. “ Indira tergagap. Dia lalu terdiam sesaat, mengumpulkan
keberanian untuk menjawab pertanyaan itu. Aku memang tidak pernah jujur
terhadapmu, tapi satu yang harus kamu tahu, kamu benar-benar berkesan bagiku.
Sejak aku membaca surat itu, entah kenapa sejak saat itu hatiku merasakan
sesuatu yang aneh. Hatiku telah terkunci untukmu. Aku tak bisa berpaling ke
lain hati. Bagiku kau juga special someone-ku, Indira”. “Sebenarnya, sampai
sekarang kau masih ada di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikanmu, Syid.”
“Di hatiku juga hanya
ada kamu. Kamu mau kan kita menjalin hubungan lagi. Kamu mau jadi calon
istriku?”
“Apa? Calon istri?”
“Terlalu dini Rasyid,
kita butuh waktu untuk saling mengenal“. Aku yakin kau adalah jodoh yang
disiapkan Allah untukku”. Indira menatap mata Rasyid, mencari keseriusan
disana.
“Aku tidak bercanda
Indira, Aku serius. Will you marry me?”
Rasyid berlutut menghadapnya dan mengeluarkan kotak yang berisi cincin
yang sangat indah berbentuk karang. Kapan Rasyid menyiapkan cincin? Cincinnya
benar-benar indah. Hatiku menghangat.
Rasyid adalah pria yang sering hadir dalam mimpiku, dia tak sengaja ikut dalam
setiap do’aku, sosok yang selalu kunanti,
sosok yang kukagumi dan kurindukan. Rasyid yang membuatku bekerja lebih keras,
dan aku yakin suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kami, dan pada saat itu
tiba aku sudah menjadi seseorang yang diperhitungkan sehingga aku pantas
buatnya. Aku tidak perlu berfikir panjang lagi. Aku pun yakin Rasyid adalah jodoh
yang disiapkan Allah untukku. Tanpa penuh keraguan aku menjawab. “Yes, I do”.
Rasyid melengkungkan senyum yang paling indah. Aku sangat bahagia.