Rabu, 04 September 2013

DIA


Pantai Carocok, Painan, Pesisir Selatan
Angin yang berhembus sepoi-sepoi, laut yang biru, pasir yang putih, ombak yang deras memecah karang. Masterpiece dari Sang Pencipta. Matahari yang sinarnya tidak begitu menyengat, air laut yang surut sehingga karang-karang dan udang yang bersembunyi malu-malu dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini benar-benar indah dan surgawi. Tempat ini masih sama seperti lima tahun yang lalu, masih memukau, masih ramah terhadapnya, masih indah, masih menyenangkan bahkan tempat ini jauh lebih bagus dari sebelumnya. Pantai yang landai, air yang bersih, pasir yang putih, kerajinan dari karang yang begitu indah semua itu benar-benar membuatku merindukan tempat ini. Pantai ini telah menjadi salah satu destinasi pantai favoritku. Semua nostalgia lima tahun yang lalu berkelabat di benakku. Aku menikmati setiap keindahan dan kedamaian yang ditawarkan pantai ini dan menyatu dengannya. Sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingku. 
“Pantai ini masih tetap menakjubkan seperti lima tahun lalu ?” Tanpa mengalihkan pandangan, spontan aku mengangguk. Kenapa suara orang ini begitu familiar di telingaku? Suara ini, apakah ini dia? Benarkah yang mengajakku bicara ini dia yang selalu aku nantikan, selalu aku rindukan, selalu hadir dalam do’aku? Aku menoleh ke samping dan mendongakkan kepala ke atas. “Rasyid, benarkah ini kau Rasyid?” “Apakah aku sedang bermimpi?” Indira mengerjapkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Iya, ini aku Rasyid, Indira”. “Ini sakit atau tidak?” Rasyid memukul lengan Indira, sambil menahan tawa. Ini tidak mimpi. Tuhan telah mengabulkan do’a-do’aku, ucapku dalam hati. “Awww sakit, kau benar-benar mengagetkanku, dan aku gak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini SS”. Rasyid tersenyum melihat reaksi Indira. “Kamu masih ingat panggilan itu?” Indira tak menjawab, ia terdiam dan menunuduk, tadi ia keceplosan, memanggil Rasyid dengan SS, panggilan akrab yang mereka ciptakan yang berarti special someone.
Kecanggungan pun terjadi. Indira menetralisir suasana dengan menanyakan kabar Rasyid. “Udah lama kita gak bertemu, bagaiman kabarmu sekarang Syid?” “Aku sehat-sehat aja Indira, kamu sendiri bagaimana?” “Seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat” . Rasyid menjawab dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Mengapa kamu ada disini?”tanya Indira.   “Kamu juga, mengapa ada disini, bukannya kamu di Jakarta?” Rasyid balik bertanya. “Aku lagi cuti, kemarin pagi tiba di Padang, lusa balik ke Jakarta, makanya aku sempatin kesini hari ini. Aku kangen sama keluarga disini. Dan aku kangen pantai ini, itung-itung buat refreshing. Rasyid mengamati Indira, dia masih seperti dulu, ramah, penuh senyum dan ceplas-ceplos. Aku sangat merindukan senyum ini, suara ini selalu tergiang-ngiang di telingaku. Entah mengapa aku selalu sulit bernafas setiap bertemu dengannya. “ Aku juga lagi cuti, aku butuh waktu untuk merefresh otak, hati dan pikiranku. Kau masih seperti dulu SS, tampan, berwibawa, necis dan hangat. Kenapa hatiku selalu berdebar-debar begini, batin Indira.
 “Aku merasa dejavu, kita pernah mengalami ini, hari yang indah dan membahagiakan beberapa tahun yang lalu. “Lima tahun yang lalu, kita pernah kesini, koreksi Rasyid. “Hari itu memang indah, air laut yang surut, udang dan kepiting yang malu-malu bersembunyi di balik karang, hujan yang turun, membuat kita berteduh di tempat ini”. “Indira, kamu masih mengingat panggilan itu, apakah segala kenangan kita juga masih  kau ingat, apa itu artinya, masih ada aku di hatimu?” Glek…Indira terhenyak di tempat duduknya. Pertanyaan Rasyid menohok hatinya. “A..a..aku.. “ Indira tergagap. Dia lalu terdiam sesaat, mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan itu. Aku memang tidak pernah jujur terhadapmu, tapi satu yang harus kamu tahu, kamu benar-benar berkesan bagiku. Sejak aku membaca surat itu, entah kenapa sejak saat itu hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Hatiku telah terkunci untukmu. Aku tak bisa berpaling ke lain hati. Bagiku kau juga special someone-ku, Indira”. “Sebenarnya, sampai sekarang kau masih ada di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikanmu, Syid.”
“Di hatiku juga hanya ada kamu. Kamu mau kan kita menjalin hubungan lagi. Kamu mau jadi calon istriku?” 
“Apa? Calon istri?”
“Terlalu dini Rasyid, kita butuh waktu untuk saling mengenal“. Aku yakin kau adalah jodoh yang disiapkan Allah untukku”. Indira menatap mata Rasyid, mencari keseriusan disana.
“Aku tidak bercanda Indira, Aku serius. Will you marry me?”  Rasyid berlutut menghadapnya dan mengeluarkan kotak yang berisi cincin yang sangat indah berbentuk karang. Kapan Rasyid menyiapkan cincin? Cincinnya benar-benar  indah. Hatiku menghangat. Rasyid adalah pria yang sering hadir dalam mimpiku, dia tak sengaja ikut dalam setiap do’aku, sosok yang selalu  kunanti, sosok yang  kukagumi dan kurindukan.  Rasyid yang membuatku bekerja lebih keras, dan aku yakin suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kami, dan pada saat itu tiba aku sudah menjadi seseorang yang diperhitungkan sehingga aku pantas buatnya. Aku tidak perlu berfikir panjang lagi. Aku pun yakin Rasyid adalah jodoh yang disiapkan Allah untukku. Tanpa penuh keraguan aku menjawab. “Yes, I do”. Rasyid melengkungkan senyum yang paling indah. Aku sangat bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar